Selasa, 09 Desember 2014

Temen penyadap ingusan

Salah satu problem yang enggak pernah usai dalam diri gue adalah bagaimana menghadapi orang yang ngeselin. Ini terjadi kepada diri gue sendiri, yang entah kapan syndrom orang ngeselin ini datang.
    Semenjak naik level di sekolah (naik kelas) ke SMA, gue bertemu dengan orang-orang baru. Tampang mereka (khususnya cowok) cukup meyakinkan. Ya, tampang mereka lebih polos dari gue. Penindasan terhadap temen sekelas sendiri enggak bakal terjadi lagi. Sejak gue sekolah TK, SD dan SMP, selalu gue yang menjadi korban penindasan. Tapi untuk kali ini enggak bakal lagi. Mengingat wajah temen-temen gue kaya gini.
    Kebanyakan wajah mereka pada umumnya polos. Mungkin karena mereka tinggal di tempat yang sama sehingga wajah mereka polos-polos. Beda kaya gue, gue lebih ke wajahnya tom crus waktu kena demam berdarah.
    Alva, dia adalah salah satu teman kelas gue. Penampilannya yang menurut gue sok kece. Tapi emang keren kata temen-temen yang lainnya.
    Waktu jam istirahat telah tiba. Gue sama temen-temen ngumpul duduk bareng. Yang tadinya tempat duduk yang berkapasitas 1 orang, menjadi 3 orang. Kami duduk di sudut-sudut kursi sambil memainkan permainan game di hp. Keasikan ini membuat kami lupa betapa sulitnya pelajaran matematika tadi.
    Alva datang sambik mengunyah-ngunyah permen karet, sambil merapikan rambutnya yang sudah sangat rapi. Inilah alva lakukan jika dia berjalan di jalan yang lurus. Jalannya seperti selebriti yang berjalan di red-carpet.
    Lanjut cerita, tanpa basa basi alva langsung merubuhkan badannya tepat di hadapan kami. Keteknya yang basah menyambar wajah gue, sontak gue merasa mual-mual. Dan ternyata bau parfum gue kalah sama bau ketek alva. Setelah beberapa kemudian alva bangun sambil berkata "sory, ya sob. Kaya enggak tau gue aja" tanpa permisi dan mengucapkan salam, dia langsung ngambil hpnya dan bermain sendiri. Kami bertiga yang duduk dalam satu kursi merasa terhimpit di tambah lagi alva ikutan duduk di kursi menambah sempit kursinya. Gue cuma berharap, enggak ada yang liat. Kalo pun ada yang ngeliat bisa-bisa di laporin akibat melebihi kapasitas kursi dan kami kena surat "dilarang duduk di kursi selama pelajaran berakhir" entah itu surat keluaran siapa, tetapi yang terpenting adalah kita patuhi semua peraturan.
    Melihat keasikan alva bermain, kami bertiga sepakat untuk ninggalin dia. Gue menghitung dengan isyarat jari gue. Setelah hitungan ke tiga kami langsung berdiri dan alva pun masih cuek. Mengingat itu hp temen gue, akhirnya gue cabut ke kantin bersama satu temen gue. Yang satunya enggak rela ninggalin hp kesayangannya tinggalin. Akhirnya dia terpaksa menemani alva bermain game. Jujur, gue enggak tega ngeliat temen gue yang lagi satu harus berpura-pura menikmati game dan ketawa paksa. Menurut gue itu terlihat seperti nonton film sedih tapi ketawa terbahak-bahak.
    Semenjak kejadian itu gue dan kedua temen gue mencari tempat buat main game yang menyenangkan. Dan kita pun dapet, walau terkadang di usir satpam karena tempat tongkrongan kita deket sama pintu gerbang. Satpam menyangka kalau kita mau mencoba kabur. Padahal enggak. Hanya menghindari penyadapan dari alva aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar